Kecanduan Internet Ubah Aktivitas Otak Remaja

MEDAN, APACERITA — Anak dan remaja yang menghabiskan banyak waktu melihat media sosial biasanya akan sulit memusatkan perhatian pada hal-hal penting, seperti mengerjakan tugas sekolah atau interaksi dengan keluarganya.

Kecanduan internet pada anak dan remaja saat ini memang menjadi kekhawatiran orangtua dan guru. Dalam penelitian terbaru terungkap bahwa remaja yang terdiagnosis kecanduan internet mengalami gangguan pada fungsi sinyal di area otak yang penting untuk mengatur fokus dan memori kerja.

Hasil penelitian merupakan hasil studi review yang mengevaluasi 12 studi pencitraan saraf yang melibatkan ribuan remaja berusia 10-19 tahun antara tahun 2013 dan 2022. Dikutip dari kompas, rabu (12/6/2024).

Ada pun kriteria kecanduan internet adalah tidak mampu menahan diri untuk tidak menggunakan internet, mengalami gejala penarikan (withdrawal symptom) saat tidak memakai internet, mengorbankan hubungan sosial.

“Pola perilaku tersebut mengakibatkan gangguan atau tekanan yang signifikan dalam kehidupan individu,” kata peneliti utama Max Chang. Ia mengatakan, pada masa remaja, orang mengalami perubahan signifikan aspek biologi, kognisi, dan kepribadian sehingga sangat rentan kecanduan internet, seperti penggunaan internet kompulsif, keinginan untuk menggunakan mouse atau keyboard, dan mengonsumsi media. Ia mengatakan, mengingat perubahan kondisi otak remaja dibandingkan dengan orang dewasa, tim peneliti merasa bahwa memahami dampak kecanduan internet pada otak peserta remaja sangatlah penting.

Kecanduan internet terbukti berdampak pada jaringan fungsi eksekutif otak yang mengatur kemampuan untuk fokus, mengambil keputusan, serta mengontrol dorongan.

Mencegah kecanduan internet

Sejumlah pakar yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut mengatakan, ada kemungkinan juga remaja yang punya pola sinyal otak berbeda menjadi lebih rentan kecanduan internet. “Jika kecanduan internet adalah penyebab gangguan sinyal otak peserta, alasannya mungkin ada hubungannya dengan jalur saraf yang terkait dengan kecanduan”, kata Dr. Smita Das, psikiater kecanduan dan profesor klinis psikiatri dan ilmu perilaku di Stanford Medicine di California.

Pola tersebut juga bisa dilihat pada orang yang kecanduan zat berbahaya. “Mirip dengan gangguan zat berbahaya dan perjudian, kecanduan internet mengubah otak, membuatnya lebih sulit untuk menolak rangsangan terkait internet,” kata Chang.

Meski begitu, tidak seperti judi atau narkoba, internet juga berpengaruh positif dalam kehidupan kita. Itu sebabnya orangtua perlu memberi batasan penggunaan waktu yang wajar. Bila orangtua melihat tanda kecanduan internet pada anak-anaknya, cobalah untuk mulai mengurangi waktu pemakaian internet dan mengajaknya melakukan aktivitas lain sebagai gantinya.

Berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater juga bisa membantu menemukan strategi mengurangi ketergantungan ini secara efektif.(ND)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *